Lalu Fathul Kasturi


LOMBOK TIMUR I gadalombok.co - Hasil panen padi pada musim tanam 2026 ini di Lombok Timur, tetap surplus. Rata-rata produksi 7,2 ton sampai 8 ton per hektare. Hasil produksi tersebut, jauh diatas target secara statistik yakni diangka 5,6 ton per hektare. Rata-rata menggunakan bibit Inpari 32, dengan usia panen 110 hari sampai 115 hari sejak tanam.

Kepala Dinas Pertanian Lombok Timur, Lalu Fathul Kasturi, menegaskan, Dinas pertanian dalam mendukung panen petani, beberapa Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) untuk panen padi berupa Combine harvester, sudah didistribusikan ke semua kelompok. Namun karena sifatnya serempak, jumlah mesin tidak cukup dan memadai, sehingga panen selain menggunakan alsintan dan petani juga banyak memaksimalkan panen secara tradisional. Untuk lahan luas, menggunakan combine harvester.

"Bicara target gabah kering giling, menyesuaikan sama dengan Bulog, yakni 70 ribu ton, karena Bulog yang menyerap gabah hasil produksi petani kita. Sedangkan target setara beras 35 ribu ton,"jelasnya. 

Jika dihitung dari hasil produksi rata-rata per hektare, dikali luas tanam yang mencapai 62 ribu hektare, ditegaskan Lombok Timur sudah surplus. Meski pun, kondisi lahan pertanian di daerah ini, ada yang tanam dua kali dan ada pula yang tiga kali. 

"Pada saat musim hujan, luas baku sawah kita kalau bicara data ATR BPN, 37 ribu hektare itu semua tertanam,"ujarnya. 

Untuk menjaga lahan pertanian tidak tergerogoti ditengah pesatnya pembangunan rumah dan lainnya, pemerintah telah menerbitkan aturan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Adanya LP2B tersebut, tidak bisa menyimpang dari ruang yang sudah ditentukan. 

"Dengan LP2B meski pertumbuhan penduduk 1 persen per tahun, namun Lombok Timur masih bisa surplus dalam kurun waktu 35 tahun kedepan,"tegasnya. 

Kaitan dengan program cetak lahan baru, kendati ada program pusat, namun Lombok Timur belum mengarah ke pencetakan lahan baru tersebut. Melainkan memilih optimalisasi lahan tidak produktif menjadi produktif, dengan membangun sumber-sumber air. Sehingga yang sebelumnya tidak bisa ditanami pangan, minimal setelah dibangunnya sumber air pertanian itu, minimal satu kali ditanami pangan, dan kalau bisa sampai dua kali tanam.

"Kita akan terus berupaya maksimal bagaimana menjaga hasil produksi padi kita tetap surplus,"pungkasnya (gl)