Bupati Lombok Timur menerima Kepala Dinas Perindustrian NTB dan Bulog, dalam rangka sinkronisasi sejumlah program


LOMBOK TIMUR I gadalombok.co - Sinkronisasi sejumlah program di lakukan Dinas Perindustrian Provinsi NTB bersama Bulog. Sinkronisasi dilakukan dengan Pemerintah Kabupaten Daerah (Pemkab) Lombok Timur, di ruang rapat Bupati, (6/5/2026). 

Kepala Dinas Perindustrian NTB, Lalu Wiranata, memberikan apresiasi kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Lombok Timur, karena Daerah ini alami pertumbuhan ekonomi tertinggi dibanding semua Kabupaten dan Kota di NTB, di luar Kota Mataram. Apalagi di ikuti dengan generasionya yang rendah. 

"Kalau Kota Mataram yang menikmati pertumbuhan ekonomi itu sedikit. Tapi kalau Lombok Timur, banyak yang menikmatinya,"kata Wiranata.

Sejumlah program unggulan di miliki Gubernur NTB. Salah satunya yang berjalan tahun ini, Desa Berdaya. Terdapat 40 Desa di NTB yang terpilih bertransformasi untuk memperoleh bantuan keuangan Pemerintah Provinsi. Lombok Timur sendiri, terdapat tujuh Desa berdaya yang di plot tahun ini, diantaranya Desa Tetebatu, Pringgabaya Utara, Sakra, Pijot, Sembalun Bumbung dan Desa Lendang Nangka Utara. 

"Nantinya pemerintah Provinsi akan menggelar pasar murah di tujuh desa berdaya, bermitra dengan Bulog. Waktu pasar murah nanti, masyarakat miskin ekstrem akan diberi tanda, untuk membeli sembako dengan harga khusus di Bulog,"terangnya.

Disebutkan, masalah hilirisasi industri, NTB memiliki potensi cukup banyak. Bahkan sentra industri yang telah dibangun melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) mau pun APBD jumlahnya lebih dari 30 Industri. Kendati semuanya belum beroperasi baik. Syukurnya, Lombok Timur memiliki Industri Porang. Sehingga, Gubernur NTB menegaskan barang kebutuhan industri, tidak keluar masih dalam bentuk bahan baku, tapi keluar dalam bentuk barang jadi. Artinya, kalau ada proses didalam daerah, ada nilai lebih didapatkan masyarakat seperti tenaga kerja dan sebagainya. 

"Senin lalu ada investor dari Malaysia, mau bangun pabrik kelapa. Investor ini minta lokasi seluas 1000 hektare. Saya bawa ke Lombok Utara, hamparan 1000 hektare itu tidak ditemukan, mungkin bisa masuk di Lombok Timur. Perusahaan ini juga beroperasi di Gorontalo,"bebernya.

"Silahkan nanti, Bapak Bupati minta data pada OPD, untuk sinkronisasi dengan Provinsi,"tambah Wiranata. 

Mantan Kepala Bappeda Lombok Tengah ini, mengungkapkan, masalah inflasi Indeks Perkembangan Harga (IPH) NTB umumnya, ada di komoditi cabai. Ia berharap, di Lombok Timur petani bisa di fasilitasi menanam cabai pada lahan yang lebih luas. Mengatur pola tanam pada musim tertentu, sehingga ketika harga naik bisa diatasi. Terlebih hanya cabai yang sering turun naik, sehingga Mendagri memberikan perhatian serius NTB. 

"Harapan Pemerintah Provinsi, bisa sinkron dengan program Lombok Timur, sehingga dalam jangka panjang masyarakat segera bisa merasakan hasilnya,"harapnya. 

Pada kesempatan yang sama, Wakil Pimpinan Wilayah Bulog NTB, Rizal, menyatakan kesiapan Bulog mendukung berbagai program di Lombok Timur, termasuk penyediaan dan pengadaan beras untuk mendukung program desa berdaya serta ketahanan pangan daerah melalui gerakan operasi pangan murah di tujuh desa berdaya. 

"Audensi ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, Provinsi, dan lembaga terkait dalam mendorong pembangunan ekonomi berbasis potensi lokal di Lombok Timur,"ujarnya. 

Sementara itu, Bupati Lombok Timur, H Haerul Warisin, menegaskan, semua yang disampaikan Kepala Dinas Perindustrian NTB, itu adalah konsentrasi Lombok Timur. Salah satunya, hilirisasi Industri Porang, kendati tidak sesederhana apa yang didapatkan hari ini. Pada saat Pabrik Porang mulai beroperasi, ia bersurat meminta dukungan ke semua Bupati di NTB dan NTT penghasil porang. Harga porang tersebut, Rp 10.200 per Kg. Harga ini mengalahkan yang di kelola Bulog ketika Bulog beli padi dan jagung. 

Disatu sisi, Porang tidak butuh biaya besar hanya bibit saja, hidup di daerah kelembaban dan ketinggian. Yang jelas Porang tidak butuh pupuk dan pestisida, lebih-lebih di NTB daerah yang disenangi Porang adalah daerah subur. Tidak ada hama dan penyakit yang menjangkiti umbi porang. Dan umbi porang tanaman unik, tergantung keinginan petani, apakah mau untung besar atau untung kecil. Jika ingin untung kecil, maka Porang dapat di panen dalam usia enam bulan. Tapi jika ingin untung besar, bisa di panen usia delapan bulan dan satu tahun. Bicara jaminan harga sangat kelir. Apalagi hanya pabrik Porang Lombok Timur yang tidak hanya mampu produksi dalam bentuk chip, tapi juga dalam bentuk tepung. 

"Porang salah satu andalan lombok Timur. Mungkin ini bagian dari pemicu pertumbuhan ekonomi, karena sumber bahan baku tidak saja di Lombok Timur, tapi daerah lain NTB,"ketusnya.

Kaitan dengan Desa Berdaya, kategorinya desa miskin. Memang jika dilihat kasat mata terhadap tujuh desa berdaya ini, harus diberikan bantuan stimulan. Apakah itu berupa bantuan pertanian, modal usaha UMKM atau peralatan lainnya. Tentu, bantuan tersebut harus melalui proses identifikasi sesuai dengan kebutuhan di masyarakat Desa tersebut.

"Silahkan kepala dinas perindustrian NTB, melakukan identifikasi sesuai kebutuhan di desa tersebut,"tegasnya. 

Bicara inflasi, Lombok Timur tahun 2025 memperoleh juara pengendalian inflasi daerah. Pihaknya pada awal pemerintahan menganggarkan Rp 40 miliar untuk pengadaan paket sembako, salah satu pemicu Lombok Timur meraih penghargaan tersebut. 

Sedangkan mengatasi inflasi pada sektor cabai, ditegaskan setiap melantik pejabat dan bertemu ASN mau pun masyarakat, selalu ditekankan menanam cabai di pekarangan menggunakan poly back atau lainnya. Apalagi inflasi di Lombok Timur selama ini lebih banyak terjadi pada cabai, bahkan belum pernah terjadi pada bawang merah. 

Ia juga menekankan supaya petani bisa menanam cabai dengan melawan alam, sehingga pihaknya perintahkan Dinas Pertanian, mencari teknologi agar bisa menanam cabai saat musim hujan.

"Sekarang kita bangun grand house modal Rp 1,5 M untuk mencontohkan pada masyarakat, bagaimana penanganan cabai dari hama penyakit, seperti apa hasilnya dan sebagainya, sehingga ini jadi contoh bagi masyarakat,"lugasnya.

Lebih jauh diungkapkan, masalah investor kelapa, kalau hitung secara angka, Kabupaten Lombok Utara kalah jumlah kelapanya oleh Lombok Timur. Kebunnya rata-rata di dominasi kelapa, apalagi eks tempat galian C, pertumbuhannya cepat. 

"Masalah investor kelapa ini, ada juga investor lain yang tertarik dan pernah datang melihat kondisi Lombok Timur. Tapi silahkan, mana mana duluan, apakah investor yang pertama sudah datang memeriksa, atau yang dibawa Pemprov,"pungkasnya. (gl)