Pesan Kebangsaan Pahlawan Nasional Almagfurullah TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid Untuk Generasi Bangsa

Dr. Sayuti Hamdani, QH

LOMBOK TIMUR I gadalombok.co - Sudah 81 Tahun Bangsa Indonesia merdeka.  Kemerdekaan ini dirayakan penuh suka cita, dengan berbagai perlombaan. Sekaligus sebagai refleksi atas hasil perjuangan para Pahlawan.

Dibalik kemerdekaan bangsa ini, Almagfurullah Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, salah satu tokoh besar dari kalangan Ulama, yang telah dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, memiliki andil dan peran besar dari kalangan suku sasak, dalam perjuangan kemerdekaan bangsa ini.

Sang Pahlawan Nasional selama hayatnya, banyak menyusun berbagai macam kitab, termasuk Wasiat Renungan Masa. Dalam wasiat tersebut, juga dicantumkan bait yang berbicara tentang kebangsaan. 

Dalam catatan kritis Dr. Sayuti Hamdani, QH.,  akademisi asal Kelurahan Sekarteja Kecamatan Selong Lombok Timur, pada momen HUT RI ke- 81 yang menyitir wasiat Renungan Masa, mengungkapkan pesan kebangsaan.  

“Negara kita ber pancasila

Berketuhanan yang Maha Esa

Ummat Islam paling setia

Tegakkan Sila yang paling utama”

Pada bait ini Almagfurullah Maulana Syaikh, menegaskan fondasi kebangsaan Indonesia, yaitu Pancasila. Sila pertama menjadi penopang semua sila lain. Bagi Almagfurullah, umat Islam adalah bagian bangsa yang paling setia, menegakkan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa (YME), karena tauhid adalah inti ajaran Islam. Pesan ini menekankan bahwa keislaman dan keindonesiaan, tidak boleh dipertentangkan, justru saling menguatkan. 

"Di usia ke-81 RI, pesan ini mengingatkan kita agar tetap teguh menjaga keutuhan bangsa dengan dasar Pancasila, sekaligus menjadikan nilai agama sebagai ruh dalam mengamalkannya," katanya. 

“Hidupkan iman hidupkan taqwa

Agar hiduplah semua jiwa

Cinta teguh pada agama

Cinta kokoh pada Negara”

Almagfurullah Maulana Syaikh pada bait tersebut, juga mengaitkan antara iman, takwa, dan kehidupan bangsa. Iman dan takwa bukan hanya milik pribadi, tetapi energi bersama (kolektif) yang menghidupkan seluruh jiwa bangsa. Tanpa iman dan takwa, kemerdekaan hanya akan menjadi kemerdekaan jasmani, tetapi kosong secara ruhani. Beliau menekankan keseimbangan: cinta agama tidak boleh mengurangi cinta pada negara, dan cinta pada negara tidak boleh menggerus komitmen keagamaan. 

"Keduanya adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan," tegas Sayuti, yang belum lama ini menyelesaikan program doktoralnya di Jakarta.

“Nahdlatul Wathan modal utama

Bagi NTB dan Sasak semua

Karena lahirnya di zaman Belanda

Sebagai Madrasah sumber Agama”

Pada bait ini, berisi kebanggaan dan kesadaran sejarah. Nahdlatul Wathan, yang lahir di tengah penjajahan, menjadi modal kultural dan spiritual masyarakat NTB. Ia bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan kebangkitan yang menanamkan ilmu agama sekaligus semangat kebangsaan. Dengan menyebut NW sebagai madrasah sumber agama, menegaskan bahwa pendidikan adalah basis perjuangan, tempat lahirnya generasi yang beriman, berilmu, dan cinta tanah air.

“Perlu dijaga bersama-sama

Selaku andil utama kita

Tegakkan iman tegakkan Taqwa

Di negara merdeka ber Pancasila”

Di sini Maulana Syaikh mengingatkan, bahwa perjuangan menjaga kemerdekaan bukan hanya tugas segelintir orang, melainkan tanggung jawab bersama. Semua anak bangsa punya andil, semua elemen punya peran. Menjaga iman dan takwa bukanlah tugas eksklusif para ulama saja, tetapi amanah kolektif. 

"Indonesia sebagai negara merdeka ber-Pancasila, hanya akan tetap kokoh apabila setiap warga negara menjunjung tinggi nilai moral dan spiritual dalam kehidupannya," tegasnya lagi.

“Pelita NTB bertambah terangnya

Karena NW lahir padanya

Berpartisipasi dengan megahnya

Membela agama, Nusa Dan Bangsa”

Lanjut Sayuti yang juga jebolan MDQH NWDI Pancor ini, pada bait terakhir tersebut, adalah refleksi bahwa NW menjadi pelita bagi NTB, cahaya yang menerangi masyarakat. Dari NTB, cahaya itu kemudian berkontribusi bagi Indonesia. Dengan partisipasi yang megah, NW hadir membela agama, nusa, dan bangsa. Pesan ini menunjukkan bagaimana sebuah gerakan lokal bisa memberi kontribusi nasional. Dari daerah, lahirlah kekuatan yang menguatkan persatuan bangsa.

Lewat bait-bait ini, Almagfurullah TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid sang Pahlawan Nasional, menanamkan pesan bahwa cinta agama dan cinta tanah air adalah satu tarikan nafas. Pendidikan adalah senjata utama untuk mengisi kemerdekaan, sementara iman dan takwa adalah ruh yang menjaga bangsa tetap hidup. 

“Di usia ke-81 Republik Indonesia, pesan kebangsaan ini tetap relevan. Merawat Pancasila, meneguhkan iman, menjaga persatuan, dan mengisi kemerdekaan dengan ilmu, amal, dan cinta tanah air,” pungkas Dr. Sayuti Hamdani (gl)